Bahaya Bakar Sampah

Kenapa BBS ?

Radikal bebas dan logam berat jika terakumulasi didalam tubuh, akan memperpendek umur sel-sel tubuh, karena metabolisme dan fisiologi sel terganggu.

Sebelum membahas BBS, mari kita ingat pembakaran sempurna atau efisien (oksidasi termal) mengubah hidrokarbon menjadi karbon dioksida dan air.

Bahaya Bakar Sampah tidak profesional, atau tanpa peralatan dan teknologi, akan banyak menimbulkan permasalahan. BBS secara manual yang sering dijumpai dimasyarakat secara sembarangan. Alasan terpenting pembakaran sampah tersebut merupakan pembakaran (oksidasi) tidak sempurna.

Pembakaran tidak sempurna salah satu indikatornya dapat dilihat dari kepulan asap . Warna nyala api merah pertanda pembakaran yang terjadi tidak sempurna karena terjadi pada suhu tidak tinggi. Berbeda halnya dengan mesin atau teknologi pembakaran pada ruang tertutup yang terjadi pada suhu tinggi bisa melebihi 1000°C, disamping itu teknologi pembakaran modern sudah memiliki filter dioksin dan senyawa racun dari sisa pembakaran termasuk teknologi terbaru carbon capture.

Molekul pembakaran tidak sempurna misalnya Karbon monoksida (CO). Gas CO merupakan molekul radikal aktif yang berbahaya bagi tubuh. Gas CO lebih mudah diserap oleh darah dibandingkan Oksigen. Hemoglobin yang seharusnya menangkat Oksigen untuk reaksi oksidasi sel-sel tubuh akan terganggu, tentunya akan menjadi bahan radikal di dalam metabolisme sel, jika terpapar dalam kurun waktu terus menerus pastinya sangat berdampak pada kesehatan.

Rumus bangun Karbon monoksida

Molekul radikal dari pembakaran tidak sempurna berupa Dikarbon monoksida

Dikarbon monoksida

Idealnya, hasil pembakaran hanya mengandung oksigen, nitrogen, karbon dioksida, dan air. Namun pada kenyataannya terdapat banyak produk pembakaran tidak sempurna, seperti formaldehida, asetaldehida, benzena, akrolein, toluena, o -, m -, p -Xilena, benzo[a]pirena (B[a]P, suatu hidrokarbon aromatik polisiklik [PAH]), 1,3-butadiena. karbonil (misalnya aldehida, terutama formaldehida), dan dioksin.

Radikal bebas dapat berdampak buruk pada berbagai kelas penting molekul biologis seperti asam nukleat, lipid, dan protein, sehingga mengubah status redoks normal yang menyebabkan peningkatan stres oksidatif. Radikal bebas yang menginduksi stres oksidatif telah dilaporkan terlibat dalam beberapa kondisi penyakit seperti diabetes mellitus, gangguan neurodegeneratif (penyakit Parkinson-PD, penyakit Alzheimer-AD dan Multiple sclerosis-MS), penyakit kardiovaskular (aterosklerosis dan hipertensi), penyakit pernafasan. (asma), perkembangan katarak, rheumatoid arthritis dan berbagai jenis kanker (kanker kolorektal, prostat, payudara, paru-paru, kandung kemih).

STOP LUUBAK

Jadi, pada kondisi pembakaran yang buruk (yaitu suhu rendah, ketersediaan oksigen terbatas, dan waktu tinggal yang singkat) karbon monoksida dalam jumlah besar dapat dihasilkan. Sekali lagi, untuk molekul yang lebih besar, diperlukan lebih banyak langkah reaksi kimia untuk membentuk produk pembakaran sempurna.

Yang membuat proses pembakaran menjadi lebih rumit, bahkan dengan kandungan oksigen yang cukup dan waktu yang cukup untuk menyelesaikan reaksi, terdapat kemungkinan lebih banyak zat antara radikal organik bereaksi satu sama lain untuk membentuk molekul organik yang lebih besar. Hal ini akan menyebabkan emisi racun di udara. Misalnya, alih-alih bereaksi dengan oksigen, radikal metil (CH3*) dapat bereaksi dengan radikal metil lainnya membentuk etana, bersama dengan molekul yang lebih besar.

Reaksi tersebut dapat terus bereaksi dan akhirnya menghasilkan berbagai jenis racun udara, termasuk PAH.

Secara umum, emisi hasil pembakaran tidak sempurna dari proses pembakaran dapat dikurangi dengan menaikkan suhu pembakaran, meningkatkan ketersediaan oksigen, memungkinkan waktu reaksi lebih lama, dan yang terpenting, menghasilkan pencampuran yang lebih baik.

#gersaplast

https://www-sciencedirect-com.translate.goog/topics/engineering/complete-combustion?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc

Tinggalkan Komentar