Tumpek Wariga juga sering disebut Tumpek Uduh, Tumpek Atag. Tumpek Wariga merupakan hari untuk memberi penghormatan kepada alam dan lingkungan, khususnya tumbuh-tumbuhan. Perayaan Tumpek Wariga juga merupakan penjabaran dari salah satu inti konsep Tri Hita Karana, yakni membangun hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
EcoPro
Tradisi di daerah Bali Tumpek Wariga upacara dilanjutkan ke kebun dengan menghaturkan sesajen ke setiap tanaman.
Doa yang umum disampaikan disaat upacara di Pohon istilahnya ngatag, sebagai berikut: “Dadong dadong i kaki jumah, tiang mempengarah buin selae dine lakar galunganan, Yen sing mebuah tekteke ajak desane, ngeed.. ngeed… ngeed
Artinya, Nenek nenek.. Kakek ada di rumah, saya membawa pesan lagi 25 hari Galungan. Kalau tidak berbuah akan ditebang oleh masyarakat.
Makna yang terkandung didalam doa itu belum begitu jelas maknanya. Tradisi yang ada ini dijaman modern mungkin sudah tidak mendapat perhatian oleh generasi khususnya generasi melenial.


Makna doa “Yen sing mebuah tekteke ajak desane” artinya Kalau tidak berbuah akan ditebang oleh masyarakat” harus kita renungkan dan pikirkan kembali. Penghargaan terhadap lingkungan khususnya tumbuhan atau pohon bukan terbatas pada pohon yang menghasilkan buah. Ancaman untuk menebang jika tidak berbuah, tersirat ada emosi yang terkesan tidak menghormati ataupun menghargai tumbuhan itu sendiri. Perlu diingat kembali kehidupan dimuka Bumi berlangsung karena adanya tumbuhan.

Berpikir kembali (Rethink) dengan memunculkan dialog dalam diri dengan bertanya kepada hati yang dalam. Apakah bentuk syukur dan penghormatan kepada tumbuhan hanya dalam bentuk upacara ritual saja?
- Berapa banyak biji yang saya semai?
- Berapa bibit pohon yang saya tanam?
- Apakah saya paham tentang fotosintesis?
- Apakah saya paham fungsi tumbuhan?
- Apa yang terjadi jika pepohonan ditebang secara luas dam masif?
- Apakah hubungan hutan dengan hujan?